Media sosial itu alat. Alat ini mungkin dirancang supaya kita betah berlama-lama, dan sering kali kita yang dipakai.
Dampaknya nyata dari media sosial, ada yang sakit hati, ada yang kecanduan, ada yang jadi toxic, bahkan ada yang berurusan dengan hukum gara-gara satu unggahan. Tulisan ini bukan ajakan berhenti total, tapi panduan supaya media sosial tetap berada di bawah kendali kita.
Ada lima aturan yang saya pegang:
- Buka dengan tujuan, langsung tutup setelah selesai.
- Abaikan jumlah like atau interaksi pada postingan kita. (opsional untuk urusan bisnis)
- Hapus aplikasinya dari smartphone.
- Berhenti memakai scroll sebagai pengisi waktu kosong.
- Jangan jadikan media sosial alat membandingkan diri.
1. Buka dengan tujuan, langsung tutup setelah selesai
Tentukan dulu kenapa kamu membuka media sosial: membagikan sesuatu yang bermanfaat, membalas pesan, atau mencari informasi tertentu. Setelah tujuan itu tercapai, tutup.
Jangan biarkan tab atau aplikasinya tetap terbuka, karena di situlah godaan scroll tanpa ujung dimulai. Kamu juga tidak perlu menunggu sampai ada yang nge-like atau berkomentar. Selesai berarti selesai.
Buka media sosial dengan tujuan. Tutup begitu tujuan tercapai.
2. Abaikan jumlah like atau interaksi (opsional untuk urusan bisnis)
Berapa banyak orang yang menyukai atau menanggapi unggahan kita berada di luar kendali. Kita tidak bisa memaksa orang lain tertarik, apalagi memberi apresiasi.
Kalau jumlah like jadi tolok ukur, kita akan terus mengecek ponsel dan suasana hati ikut naik-turun mengikuti angka itu. Lebih sehat memakai alur yang sederhana:
Buat konten -> bagikan -> tutup aplikasi -> buat konten lagi.
Bagikan hal yang baik, lalu tinggalkan. Tanggapan orang lain bukan urusan kita.
3. Hapus aplikasinya dari smartphone
Smartphone selalu di tangan, jadi apa pun yang terpasang di sana akan paling sering dibuka, sering kali tanpa alasan. Selama aplikasi media sosial masih ada, godaan untuk membukanya akan selalu menang.
Solusi paling efektif adalah menghapus aplikasinya. Kalau memang perlu, akses lewat browser saja, karena versi web sengaja dibuat kurang nyaman sehingga kita tidak betah berlama-lama. Hambatan kecil ini cukup untuk memutus kebiasaan buka-tutup otomatis.
4. Berhenti memakai scroll sebagai pengisi waktu kosong
Waktu tidak bisa diputar ulang. Setiap menit yang habis untuk menonton status, foto, dan video orang lain adalah menit yang tidak kembali.
Tidak ada salahnya jadi penikmat, tapi sayang kalau itu satu-satunya peran kita. Coba balik: alih-alih hanya mengonsumsi, mulailah membuat. Menulis, memotret, atau membuat video lalu membagikannya jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar menggulir layar.
Menjadi creator adalah cara yang jauh lebih baik untuk mengisi waktu daripada jadi penonton pasif.
5. Jangan jadikan media sosial alat membandingkan diri
Tidak masalah membagikan pencapaian, dan tidak masalah pula melihat pencapaian orang lain. Yang jadi masalah adalah ketika melihat unggahan orang lain lalu muncul rasa iri dan anggapan bahwa hidup tidak adil.
Iri boleh saja kalau memicu kita untuk bergerak maju. Tapi membandingkan diri secara terus-menerus hanya melelahkan. Teman seangkatan yang dulu sama rajin dan sama pintarnya bisa punya jalan hidup yang sangat berbeda saat dewasa, dan itu wajar. Setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing.
Bangun jalanmu, lukis warnamu!